PROSES MORFOLOGI

by Ery on 02:36 PM, 15-Apr-12

Category: MAKALAH

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar belakang masalah

Proses morfologi adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (proses afiksasi), pengulangan (reduplikasi) penggabungan (komposisi), pemendekan (akronimisasi), penggaabungan status (konversi).

Proses morfologi adalah penyusunan dari komponen –komponen kecil menjadi menjadi bentuk yang lebih besar berupa kata kompleks atau kata yang poli morfemis.

B.     Identifikasi Masalah

Dalam makalah ini penulis  mengidentifikasi masalah proses pembentukan kata dari sebuah bentu dasar melalui, pembubuhan , pengulangan, penggabungan, peendekan dan penggabungan status.

C.    Batasan Masalah

Agar masalah yang di bahas dalam makalah  ini tidak terlalu luas s maka penulis membatasi materi makalah ini  seputar proses terjadinya morfologi

D.    Metode Pembahasan

Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.

 

 

 

Bab II

PEMBAHSAN

 

Proses Morfologi

Proses morfologi adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (proses afiksasi), pengulangan (reduplikasi) penggabungan (komposisi), pemendekan (akronimisasi), penggaabungan status (konversi)

Proses morfologi adalah penyusunan dari komponen –komponen kecil menjadi menjadi bentuk yang lebih besar berupa kata kompleks atau kata yang poli morfemis.

Prosef morfologi melibatkan

1.      Bentuk dasar

2.      Alat pembentuk

3.      Makna gramatikal

4.      Hasil proses pembentukan

 

 

1.         Bentuk Dasar

Adalah bentuk yang kepadanya di lakukan proses morfolofi  seperti baca, pahat, dapat berupa bentuk polimorfemis seperti bentuk bermakna: berlari dan jual beli, pada kata bermakna, berlari-lari, dan berjual beli

proses redupliksi bentuk dasar dapat berupa (rumah mejadi rumah-rumah) dapat berupa kata berimbuhan menebak menjadi menebak-nebak.

Proses komposisi  sate menjadi sate ayam, sate padang, sate lontong. Kampung menjadi kampung halaman. Muda menjadi tua muda

Perbedaan bentuk pelajar dan pengajar, bentuk dasar kata itu adalah sama “ajar” dalam kajian proses morfologi bentuk dasar kedua itu tidaklah sama

Bentu dasar kata pelajar = belajar

Bentk kata dasar pengajar =mengajar

Karena bentuk gramatikal kata belajar = orang yang belajar

Karena bentuk gramatikal kata pengajar = orang yang mengajar

       Konsep bentuk dasar tidak sama dengan pengertian morfem dasar atau kata dasar.

2.      Alat pembentuk kata

Alat Pembentuk Dalam Proses Morfologi Adalah

a.       pengulangan dalam proses afiksasi

b.      pngulangan dalam proses reduplikasi

c.       penggabungan dalam bentuk proses komposisi

d.      pemendekan penyingkatan dalam  proses akronimisasi

e.       pengubahan dalam proses konversi

dalam proses afisasi sebuah afiks diimbuhkan  pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata misal baca di imbuhkan afiks me- sehingga menghasilkan kata membaca yaitu sebuah verbal transitif aktif. Pada kata juang di imbuhkan afiks ber- sehingga menghasilkan verba intransitif berjuang.

            Proses afiksasi di bedakan  atas prefiksasi yaitu proses pembubuhan prefiks, konfiksasi, proses pembubuhn konfiks, sufiks, proses pembubuhan sufiks, infiksasi proses pembubuhan infiks. 

Dalam hal ini adanya klofiksasi, proses afiksasinya di lakukan bertahap. Misal, pembentukan kata mengatasi, dasar tangis, sufiks “i” setelah  dibubukan prefiks me-

Proses reduliksi atau pengulangan. Yang di kenal, pengulangan secara utuh pengulangan dan pengubahan bunyi vokal maupun konsonan dan pengulangan sebagian,

Penggabungan atau proses komposisi, merah  jambu, merah muda , merah darah..

Pemendekan atau proses akronimisasi jakarta, bogor, ciawi, jagorawi.

Pengubahan status atau konversi “gunting” gunting ini terbuat dari baja. Gunting dulu baru dilem.

3.      Makna Gramatikal

Dalam kajian semantik dikenal dengan adanya makna leksikal makna gramatikal, makna kontektual, dan makna gramatikal.

Yang dilihat dari penggunaan bahasa yang  keempat kekhususan dalam penggunaan bahasa.

Makna leksikal adalah makna yang secara indra di miliki  oleh setiap bentuk dasar.

Berbeda dengan  leksikal, maka makna gramatikal baru “muncul “ dalam suatu proses gramatikal. baik proses morfoli maupun proses sintaksis. Dalam proses prefiksasi berpada dasar dasi muncul makna gramatikal.

Memakai dasi, dalam proses prefiksasi me- pada dasar batu muncul makna gramatikal “menjadi seperti batu”. Dan dalam komposisi dasar sate dengan dasar ayam menjadi bentuk sate ayam muncul maknagramatikal. Sate yang bahannya daging ayam sedangkan dalam proses komposisi dasar sate dan dasar padang muncul makna gramtikal “sate yang berasal dari padang”

Makna gramatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makan yang di miliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses pembentukan kata.

 

4.       Tahap pembetukan

Telah di ketahui bahwa bentuk dasar dalam proses morfologi dapat berupa akar, dapat berupa bentuk polimorfemis atau bentuk turunan dapat pula melalui bentuk perantara. Oleh karena itu berdasarkan tahap prosesnya kita dapat membedakan adanya pembentukan setahap dan melalui bentuk perantara.

1.      Pembentukan setahap terjadi kalau bentuk dasarnya berupa akar atau morfem dasar (baik bebas maupun terikat). Dalam proses afiksasi misalnya pengimbuhan prefik me- pada bentuk dasar beli menjadi kata membeli; pada pengimbuhan prefiks ber- pada bentuk dasar air menjadi berair; dan pada pengimbuhan se- pada bentuk dasar kelas menjadi sekelas

Untuk lebih jelas Dapat di lihat dari  bagan di bawah ini.

Me+beli                       membeli

Ber+air                        berair

Se+kelas                      sekelas

Atau dalam bagan

Me                   beli                  ber                   air                    se                     kelas

        

 

 

Pembentukan setahap dalam prsoses Redluplikasi, misalnya dasar rumah + pengulangan (p) menjadi rumah - rumahan; dasar kecil + pengulangan (p) menjadi kecil – kecil; dan dasar bangun pengulangan (p) menjadi bangun – bangun.

Dapat di gambarkan dngan bagan seperti di bawah ini.

Rumah + p                      rumah – rumah

Kecil + p                         kecil – kecil                        

Bangun + p                     bangun – bangun

Atau dalam bagan

Rumah             p                      kecil                 p                      bangun                        p

 

 

Pembentukan setahap dalam proses Komposisi, misalnya dasar sate + dasar ayam, menjadi sate ayam, dasar terjun + dasar bebas menjadi terjun bebas; dan dasar merah + dasar jambu menjadi merah jambu

Perhatikan bagan berikut

 

Sate + ayam

Terjun + payung

Merah + jambu

Atau dalam berikut

sate                  Ayam              terjun               payung                        merah              jambu














 

 


2.      Pembentukan terjadi apabila dasar yang mengalami proses Morfologi itu berupa bentuk polimorfemis yang sudah menjadi kata (baik kata berimbuhan, kata berulang, maupun kata gabung). Misalnya, kata berpakaian di bentuk dengan mengimbuhkan prfiks ber- pada dasar pakaian (yang telebih dahulu terbentuk  dari proses pengimbuhan sufiks –an pada dasar pakaian).

 

Untuk lebih jelas dapat di lihat dari bagannya di bawah ini

Ber- + (pakai + an )                       berpakaian

 

Atau dengan bagan

Ber                  pakai    an

 

 

 

Tafsirankata berpakaian di atas di dukung oleh makna gramatikal kata berpakaian yang berarti “memakai pakaian” . prefiks ber- di imbuhkan setelah sufiks –an diimbuhkan pada akar pakai.

Pembentukan  bertahap banyak terjadi dalam kombinasi proses antara afiksasi (A) dengan reduplikasi (R); antara komposisi dengan afiksasi; antara komposisi dengan komposisi (K); antara komposisi dengan afiksasi; antara komposisi dengan reduplikasi.

 

Pembentukan yang di mulai dengan proses afiksasi di lanjutkan dngan proses reduplikasi, misalnya terjadi pada pembentukan kata berlari – larian. Mula-mula pada akar lari di beri konfiks ber- an menjadi berlarian, setelah itu kata berlarian diberi proses reduplikasi menjadi berlari – larian.

 

 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari bagan berikut ini

Lari + ber – an                     berlarian + reduplikasi                        berlari – larian

 

Atau dengan bagan berikut

Lari                  ber – an                       reduplikasi

 

 

 

Pembentukan kata yang di mulai dengan reduplikasi di lanjutkan dengan afiksasi, misalnya, terjadi dalam pembentukan kata berlari – lari. Yang pada kata lari di lakukan proses reduplikasi menjadi lari – lari, setelah itu di beri proses pengimbuhan dengan prefiks ber- menjadi berlari – lari

 

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dari bagan berikut ini

Lari + reduplikasi                     lari – lari + ber-                       berlari –lari

 

 

Atau dengan bagan  berikut

ber                   lari       reduplikasi

 

 

 

Tafsirankata berlari – lari tersebut di dukung oleh makna gramatikal yang menyatakan makna “melakukan  lari – lari”, sedangkan makna berlari – larian yang menyatakan “banyak yang berlarian”.

 

Pembentukan kata yang di mulai dengan proses komposisi, di lanjutkan dengan proses komposisi lagi, misalnya terjadi dalam pembentukan kata kereta api ekspres. Yang mula – mula akar kereta di gabungkan dengan akar api menjadi bentuk kereta api. Setelah itu di gabungkan pula dengan akar ekspres sehigga menjadi kereta api ekspres.

 

Untu lebih jelasnya dapat di lihat dari bagan berikut ini

Kereta+ api                     kereta api + ekspres                       kereta api ekspres

 

Atau dapat di lihat dengan bagan berikut

Kereta                         api       ekspres

 

 

 

Bentuk kereta api ekspres dapat di bentuk lagi dengan menggabungkan akar malam sehingga menjadi bentuk  kereta api ekspres malam

 

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dari bagan berikut ini

Kereta             api       ekspres                        malam

 

 

 

 

 

Pembentukan kata yang di mulai dengan proses komposisi di lanjutkan dengan proses  afiksasi, misalnya dalam proses terjadinya kata berjual beli. Pada akar jual di gabungkan akar beli, sehingga menjadi jual beli setelah itu di lanjutkan dengan pengimbuhan prefiks ber- sehingga menjadi berjual beli

 

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat melalui bagan berikut  ini

Jual + beli                     jual beli + ber                       berjual beli

Atau dapat di lihat dengan bagan berikut ini

Ber                  jual      beli

 

 

 

Tafsiran proses kata berjual beli didukung oleh makna gramatikalnya yang menyatakan ”melakukan jual beli

 

 

3.    pembentukan kata yang prosesnya melalui bentuk perantara adalah seperti terjadi dalam proses pembentukan kata pengajar. Secara kasat mata bentuk pengajar tampaknya di bentuk dari dasar berupa akar ajar yang diberi proses prefiksasim pe-. Namun, sebenarnya proses itu  tejadi melalui bentuk kata mengajar sebab makna gramatikal pengajar adalah ‘yang mengajar’. Seperti dikatakan Kridalaksana (1989) bahwa proses pembentukan nomina terjadi setelah pembentukan verba. Jadi, proses pembentukan nomina pelajar terjadi setelah proses pembentukan verba mengajar. Ini tampak dari makna gramatikal pelajar yaitu ‘yang belajar’.

Begitu juga pada nomina pengarajan yang dibentuk melalui verba mengajar, sebaab makna gramatikal adalah ‘hal/proses mengajar’. Bentuk ajaran juga terjadi melalui verba mengajar sebab makna gramatikalnya adalah ‘hasil mengajr’.

Cotoh – contoh di atas kalau dibagankan menjadi.

 

mengajar                     pengajar, pengajaran

 


Ajar

                                       Belajar                 pelajaran , pelajaran

 

Satu                    mempersatukan                pemersatu

 

Tahan                   mempertahankan                 pertahanan

 

Baik                     memperbaiki                 perbaikan

 

 

Jadi, jika lihat tampaknya proses pembentukan kata dalam bahasa indonesia sangat rumit.

 

 

5.      Bentuk Inflektif dan Derivatif

 

Serperti kita ketahui dalam bahasa – bahasa fleksi, seperti bahasa arab, bahasa latin, dan bahasa itali, ada pembentukan kata secara inflektif dan secara derivatif. Dalam pembentukan kata inflektif identitas leksikal kata yang dihasilkan sama dengan identitas leksikal bentuk dasarnya. Sebaiknya dalam proses pembentukan derivatif identitas bentuk yang dihasilkan tidak sama dengan identitas leksikal bentuk dasarnya. Jadi pembentukan kata inggris dari dasar write menjadi writes adalah pembentukan kata inflektif ,karena baik write maupun writes adalah sama – sama verba; tetapi pembentukan kata dari write menjadi writer adalah pembentukan derivatif, sebab bentuk write berkatagori verba, sedangkan write berkatagori nomina.

Kasus inflektif dalam bahasa indonesia hanya terjadi dalam pembentukan verba transitif, yaitu dengan prefiks me- untuk verba transitif aktif, dengan prefiks di- untuk verba transitif pasif tindakan, dengan perfiks ter- untuk verba transitif pasif keadaan, dan dengan prefiks zero untuk verba imperatif. Bentuk dasarnya dapat berupa:

(1)     Pangkal verba akar yang memiliki komponen makana [ + sasaran ], seperti akar baca, beli, dan tulis.

(2)     Pangkal bersufiks –kan, seperti selipkan, daratan, dan lewatkan.

(3)     Pangkal bersufiks –i, seperti, tangisi, lalui, dan nasihati.

(4)     Pangkal berprefiks per- seperti, perpanjang, perluas, pertingi.

(5)     Pangkal berkonfiks per-kan seperti, persembahkan, pertemukan, dan pertukarkan.

(6)     Pa

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images